MENGGALI POTENSI PENGEMBANGAN HALAL FOOD DI INDONESIA

Sabtu, 05 Agustus 2017

 

Oleh. Prof. Iwan Vanany, ST., MT., Ph.D.; (Peneliti bidang halal food)

Dr. Abu Sufyan, M.Ag.; ( MUI Pimpinan Daerah Muhammadiyah)

Dr. Khoirul Anwar, M.sei (LPPOM MUI Jatim)

Membicarakan halal bukan berhubungan dengan umat Islam, tetapi lebih pada kebutuhan masyarakat pada umumnya. Hal ini bisa kita lihat pada dari pasar muslim untuk pengeluaran makanan: Global Muslim market $1.173 M, China $ 854 M, USA $ 771 M, Jepang $ 380 M, Idia $ 341 M, Rusia $ 316 M. Data top Markets: Indonesia 154.9, Turkey 115.5, Pakistan 106.3, Egypt 77.5, Bangladesh 68.5, Iran 59, Saudi Arabia 47.9, Nigeria 41.2, Russia 37, India 34.8.

Potensi Halal 2030 populasi muslim menjadi 26.4% dari populasi dunia dan naik 35% dari 2010. Sehingga peluang bisa dimanfaatkan baik peneliti dan masyarakat:

  1. Produk dan Pasar: hahal food B2B & retail commerce; Halal integredients manufacting; Halal Organic growth, dll
  2. Keuangan: Halal food equality investments; Halal Company IPOs
  3. Keinginan Konsumen: Non Muslim Costomers; Penipuan label Halal
  4. Kebijakan, regulasi dan Investasi: Akreditasi; kurangnya standarisasi

Dalam Islam sudah jelas perintah mengkonsumsi makan halal dan baik dalam QS, Al-Baqarah:168 dan Al-Maidah:88. Makna halal tidak cukup pada substansi barangnya tapi bagaimana cara perolehan, kalau itu hewan apakah yang dikonsumsi hewan tersebut juga halal. Begitu juga istilah baik, tidak hanya substansi makanannya yang baik tetapi apakah makanan tersebut memiliki efek baik pada yang mengkonsumsi. Maka Indikator Halal itu ada tiga hal, yakni:

  1. Sesuai dengan Syari’at
  2. Tidak menimbulkan kerusakan
  3. Membawa manfaat bagi kehidupan manusia.

Di Jawatimur hasil data LPPOM MUI mulai 2011 s/d 2017 TOTAL Reg:2590, IKM: 1371, Total: 3657

Produk bersetifikat 2011 s/d 2017 Total  Reg: 64342, IKM: 7340 Total: 65977.

Jumlah perusahaan bersertifikat Total Reg: 2064, IKM:1335  Total: 3135.